Padang Trip

26 Desember 2016:

Ini adalah kedua kalinya Saya ke wilayah Sumatera, setelah bulan Oktober yang lalu saya ke Pulau Pahawang. Saya berangkat bersama Mama dan ketiga adik saya, ditambah 6 orang dari keluarga kakak Mama saya. Jadi total satu rombongan kami ber-11 orang. Kami menggunakan Lion Air jam 10.30 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Minangkabau. Perjalanan ditempuh sekitar 1,5 jam. Harga tiket bersikar IDR 1.500.000/orang. Di bandara Minangkabau kami dijemput oleh supir mobil yang kami sewa. Kami menyewa sebuah mobil minibus, elf, yang dapat menampung 11 orang. Harga sewa perharinya IDR 650.000. Kami menginap di sebuah penginapan, semacam guest house di daerah Padang Panjang, tepatnya di jalan raya padang panjang-solok, KM.70. Harga kamar di sana IDR 300.000 permalam. Kami memesan 4 kamar. Perjalanan ke penginapan dari bandara Minangkabau sekitar 1,5-2 jam. Tetapi dari bandara Minangkabau kami tidak langsung ke penginapan, melainkan kami berkeliling dulu di kota Padang Pariaman.

Kami makan siang dulu di restoran makanan padang, Lamun Ombak. Seperti pada restoran padang umumnya, kami disajikan semua menu yang dimiliki. Kami mengambil hampir semua menu, plus 2 porsi martabak mesir. Rasa martabak mesirnya lucu, rasanya manis tapi rasa kuahnya agak asin. Jadi nano-nano rasanya. Untuk makan siang disini, kami menghabiskan hanya IDR 350.000. Bayangkan kalau di Jawa berapa habisnya, mungkin bisa hampir 1 jt-an.

 

Setelah itu kami menuju ke Pantai Gandoria. Untuk tempatnya sendiri pantai ini sangat unik karena berada disebelah stasiun kereta api Pariaman. Jalan masuknya berada di belakang rel kereta. Jadi kalau mau melintas harus berhati-hati, tengok kanan-kiri siapa tau ada kereta akan lewat. Stasiun kereta ini berada di pasar, yang sepertinya pusat kegiatan perdagangan di Kota Pariaman. Kita tidak akan menemukan pemandangan yang unik seperti ini di Pulau Jawa. Di Pantai Gandoria ini tidak ada wahana permainan air apapun, kita harus menyebrang ke Pulau Angso Duo, dengan menggunakan kapal klotok jika ingin menikmati bermain air. Harga tiket untuk menyebrang ke Pulau Angso Duo adalah IDR 40.000/orang. Dari rombongan kami 7 orang yang menyebrang ke Pulau Angso Duo. Di Pulau itu kita bisa snorkling atau hanya bermain main air. Selain itu kita juga dapat minum air kelapa atau makan tape durian. Untuk snorkling, biayanya kalau tanpa foto underwater IDR 35.000/orang, kalau dengan foto underwater IDR 50.000/orang. Saya dan 2 orang sepupu saya mengambil paket yang dengan foto underwater. Karena kami tidak membawa peralatan elektronik yang dapat langsung menampung foto-foto kami, pemandu snorklingnya berjanji akan meng-upload foto-foto kami di halaman facebook fanpage-nya, tetapi sampai hari ini saya cek belum ada foto-fotonya. Tidak ada yang dapat kami lihat saat snorkling di sana, karena ombaknya sudah mulai tinggi sehingga susah untuk melihat ke bawah airnya. Jadi kami hanya berenang dan foto-foto ala foto underwater (-__-"). Ketiga adik saya bermain banana boat dengan harga IDR 35.000/orang. Kami kembali ke Pantai Gondoria sudah sore, sekitar sebelum maghrib. Jadi kami bebersih, sekalian solat maghrib di sana. Dari Pantai Gondoria kami pulang, tetapi mampir dulu ke Sate KMS. Tempat makan ini beralamat di Jl. Imam Bonjol, Toboh Palabah, Pariaman Selatan, Kota Pariaman, Sumatera Barat. Ini adalah salah satu tempat sate padang yang terkenal. Sate padang di KMS ini lebih tajam bau mericanya dibanding sate padang yang lain. Rasanya enak sekali. Saya dan adik saya makan 2 porsi sate padang ini. Harga perposinya sekitar IDR 15.000. Setelah makan di Sate KMS kami langsung menuju ke penginapan. Perjalanan dari Padang Pariaman ke Padang Panjang sekitar 1 jam. Sepanjang jalan kami melihat bentuk bangunan dan tata kota yang terkesan tua di kota ini. Kalau kata Mama dan tante saya seperti kota Tarakan pada Tahun 80-an. Yang unik di daerah padang ini kami tidak menemukan Indomart dan Alfamart. Kabarnya, mereka dilarang masuk oleh pemerintah provinsi untuk melindungi para pedangang lokal. Two thumbs up buat PEMPROV-nya.

27 Desember 2016:

Pada hari ke-2 ini kami hanya mengunjungi 2 objek wisata, Danau Kembar di Gunung Talang dan Danau Singkarak. Kami berangkat dari penginapan sekitar jam 07.30 WIB. Supir mobil elf kami nyetirnya lambat sekali, sekitar 40-50 KM/jam, jadi perjalanan kami ke Danau Kembar memakan waktu 3 jam lebih. Danau Kembar terdiri dari Danau Atas dan Danau Bawah. Keduanya terbentuk dari kawah volkano. Di Sumatera Barat ini terdapat banyak gunung berapi, sehingga tanahnya subur. Diantara gunung berapi yang masih aktif adalah Gunung Marapi dan Gunung Singkarak. Dari Danau Kembar kami mampir ke kebun teh yang berada di kaki Gunung Talang. Kebun tehnya luas sekali. Rasanya seperti berada di Subang yang banyak kebun teh :D.

Panorama Danau Bawah

Pemandangan Sawah Dari Bukit Panorama Danau Kembar

Panorama Danau Atas

kebun_teh_gn_talang_1
Kebun Teh Gn. Talang 1

kebun_teh_gn_talang_2
Kebun Teh Gn. Talang 2

Kemudian kami meminta supirnya untuk diantarkan ke kolam air panas. Dia membawa kami ke pemandian air panas yang berada di dalam komplek mesjid di suatu perkampungan. Tempatnya, maaf, kotor. Ada banyak lumut di kolamnya. Padahal kami sudah membayangkan seperti di Ciater -_-". Uang masuk ke perkampungan ini sekitar IDR 5000/orang. Air panas di daerah Sumatera Barat ini lebih panas dari di Jawa, kandungan belerang dan mineral lainnya juga lebih tinggi. Karena tidak jadi mandi air panas, kami memutuskan untuk melihat air terjun yang bertingkat-tingkat di daerah Sangiang. Air terjun di Sangiang ini tersembunyi di belakang komplek kolam pengembangbiakan ikan, tempatnya masih sangat sulit di jangkau, sehingga kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke air terjun ini. Lalu kami memutuskan untuk mengunjungi Danau Singkarak yang berada di jalur pulang ke penginapan.

Pemandangan di Danau Singkarak ini sangat indah, mirip seperti di danau dekat kota Luzern, Swiss. Sayangnya tidak ada wahana permainan air kecuali kapal bebek yang dikayuh. Kapal bebek ini disewakan seharga IDR 35.000 untuk menyusuri tepian danau selama 15 menit. Ada pula kapal kecil yang disewakan untuk berkeliling danau selama 1 jam seharga IDR 650.000. Kapal ini dapat menampung sekitar 10 orang. Kami menikmati pemandangan danau sambil makan santai. Bagi pecinta durian, buah ini tidak boleh dilewatkan selama berada di Sumatera Barat.

28 Desember 2016:

Hari ketiga ini kami tidak lagi menggunakan minibus elf, kami putus sewanya karena supirnya yang menyebalkan dan tidak tahu tempat-tempat wisata. Kami berganti jadi menggunakan mobil kecil, Avanza dan Innova. Dengan harga sewa Avanza IDR 400.000/hari dan Innova IDR 300.000/hari. Kami dapat harga sewa 50% lebih murah untuk mobil Innova karena mobil ini miliki penginapan yang kami tempati. Jika ditotal biaya sewa 2 kendaraan ini tidak jauh berbeda dengan elf, tetapi dengan supir-supir yang lebih ramah dan tahu lokasi-lokasi wisata. Kami juga dapat melaju lebih kencang dengan mobil-mobil ini sehingga tidak kehabisan waktu di jalan. Destinasi pertama pada hari ketiga ini adalah Nagari Tuo Pariangan. Sebuah desa yang terletak di kaki gunung Marapi. Desa ini mendapat predikat desa terindah dari sebuah majalah traveling yang berbasis di Amerika Serikat. Sayangnya, saat kami ke sana, sedang ada acara maulid Nabi Muhammad SAW, jadi kami tidak bisa masuk. Saat maulid Nabi Muhammad SAW, mereka menyembelih kambing dan domba di pelataran masjid tua dan kemudian memasak secara bergotong-royong untuk dibagi-bagikan kepada seluruh penduduk desa. Sedikit keluar dari desa terdapat Kuburan Panjang. Kuburan ini adalah makam dari seorang tokoh masyarakat di desa tersebut. Di sepanjang jalan di desa ini terdapat umbul-umbul (bendera) berwarna hitam, merah dan kuning, seperti warna bendera Jerman, tetapi disusun secara vertikal bukan horizontal. Kami juga melihat bendera serupa di Pariaman, dan kami bingung itu bendera apa. Ternyata itu adalah bendera suku Minangkabau. Bendera ini dipasang jika ada suatu acara atau di tempat-tempat kerajaan.

 padang_bendera

Dari Nagari Tuo kami menuju ke Istana Pagaruyung, di dekat Batusangkar. Ini adalah replika dari istana Kerajaan Pagaruyung. Istana yang aslinya telah terbakar karena tersambar petir. Replika istana ini juga telah 2 kali dibangun karena hal yang sama. Istana ini megah sekali, terdiri dari 3 lantai yang setiap lantainya sangat tinggi sehingga udara dapat mengalir dengan baik. Di lantai 1 terdapat Singgasana, tempat Ibu dari Raja duduk. Jika ada rapat-rapat kerajaan Beliau duduk di sini untuk memantau anggota keluarga dan tamu yang belum datang. Lalu terdapat ruang-ruang kamar, berbagai benda peninggalan kerajaan dan mannequin orang-orang di kerajaan dengan kostum mereka masing-masing. Lantai 2 istana berbentuk ruang yang sangat lapang, dengan 1 sekat pemisah untuk ruang kamar, entah kamar siapa. Lantai 3 berbentuk ruangan kecil yang di sebut Mahligai, tempat menyimpan barang-barang kebesaran raja, seperti mahkota. Biaya masuk ke Istana Pagaruyung sebesar IDR 12.000. Di istana ini pengunjung dapat menyewa dan berfoto dengan menggunakan baju adat Minangkabau. Harga sewa perbajunya sekitar IDR 30.000. Kami tidak berfoto dengan menggunakan baju adatnya karena kami mengejar waktu yang terbuang selama 2 hari kemaren.

Destinasi berikutnya adalah Lembah Harau yang terletak di Payakumbuh. Sepanjang perjalanan dari satu destinasi ke destinasi wisata yang lainnya kami selalu menikmati pemandangan alam yang sangat indah. Di pinggir jalan terbentang hamparan sawah-sawah yang luas. Lebih luas dari di Jawa. Perjalanannya cukup jauh. Di tengah perjalanan kami membeli snack yang terbuat dari jagung, ada perkedel jagung, donat jagung, kolak jagung, dll.

snack_jagung

Sesampainya di Lembah Harau, kami melihat sesuatu yang sangat keren seperti ini:

lembah_harau_tebing

Destinasi wisata di daerah ini adalah air terjun Lembah Harau dan Tebing Echo. Air terjun Lembah Harau terletak di pinggir jalan lalu lintas kendaraan. Kebanyakan air terjun yang kami temui lokasinya seperti ini, termasuk air terjun Lembah Anai yang terkenal. Tidak seperti di Jawa yang air terjunnya jauh dari jalan lalu lintas kendaraan. Jadi untuk nyebur kami mikir-mikir juga, tidak nyaman nyebur di air terjun di pinggir jalan. Dari air terjun Lembah Harau kami menuju ke Tebing Echo. Apabila kita berteriak cukup keras ke arah tebing, kita dapat mendengar gema suara yang sama persis terpantul dari tebing. Lokasi untuk berteriak ke tebing telah diberi tanda khusus.

Dari Lembah Harau kami menuju ke jalan Kelok 9 yang terkenal. Kelok 9 berada di jalur lintas sumatera ke arah Pekanbaru. Jalan Kelok 9 ini baru selesai direnovasi. Jalanan ini jadi terlihat sangat megah dan indah dengan konstruksi 3 jembatan yang saling tumpang-tindih. Kami naik dari jalur yang baru direnovasi dan turun melalui jalur Kelok 9 yang lama. Banyak wisatawan yang berfoto di pinggir jalan.

Dari Kelok 9 kami naik ke Bukittinggi untuk melihat Jam Gadang yang ikonik. Jam Gadang terletak di pusat kota Bukittinggi. Dengan banyak pertokoan dan andong. Tempatnya sangat padat sekali. Menurut saya seharusnya area Jam Gadang diperluas untuk menampung para wisatawan dan penjual keliling yang berada disana. Di jalan pulang kami singgah di tempat penjual jajanan khas SUMBAR. Saya lupa nama jajanannya. Makanan itu terbuat dari kelapa dan gula merah. Rasanya enak tapi saya tidak dapat makan terlalu banyak. Makan 1 saja rasanya sudah manis sekali, kalau makan lebih dari 1 jadinya eneg.

29 Desember 2016:

Hari ke-4 ini tujuan utama kami adalah kepualauan Mandeh, di kabupaten Pesisir Selatan. Jarak tempuhnya sekitar 4 jam dari penginapan kami. Kami berangkat jam 07.30 WIB. Di jalan kami singgah dulu ke ari terjun Lembah Anai yang berada di jalan dekat penginapan kami. Sebenarnya kami sudah bolak-balik melewati air terjun ini pada hari-hari sebelumnya, tetapi biasanya kami melewatinya saat sudah gelap. Hari ini kami melewatinya saat pagi hari, jadi kami mampir untuk berfoto sebentar lalu melanjutkan perjalanan panjang ke Kep. Mandeh. Di air terjun ini kalau sore banyak sekali monyet yang berkeliaran. Monyet-monyet di sini sudah terbiasa dikasih makan oleh wisatawan.

Pada jam 12.00 WIB kami sampai di Pantai Curocok Painan. Pantai ini ramai dikunjungi wisatawan karena ada banyak wahana olahraga air nya. Dari pantai ini bisa menyebrang ke Kep.Mandeh, tetapi dengan harga yang tidak jelas, relatif mahal karena tidak ada standar harga dari pemerintah. Tergantung warga-si pemilik kapal-mau kasih harga berapa. Saat kami tanya, kami diberi harga IDR 2,5 juta untuk menyebrang ke Kep. Mandeh yang waktu tempuhnya hanya 15 menit. Mungkin jika Anda orang padang, Anda akan dikasih lebih murah karena sesuku dengan si pemilik kapal. Karena harga ini sangat tidak rasional kami putuskan untuk bertanya ke orang sekitar. Ada yang memberikan alternatif untuk menyebrang ke Kep. Mandeh melalui dermaga pelelangan ikan Curocok, Kab. Pesisir Selatan yang jarak tempuhnya 50 menit perjalanan darat dari Pantai Painan. Kami pun menuju ke sana. Sesampainya di sana kami disambut oleh seorang pemandu wisata yang menawarkan jasa kapalnya. Mereka memberikan harga paling murah IDR 650.000 untuk berkekliling 5 destinasi wisata di Kep. Mandeh. Ini harga yang fair, tetapi kami juga dicurangi di sini. Untuk harga segitu seharusnya kami mendapatkan satu kapal sendiri untuk rombongan kami, tetapi kami malah digabung dengan rombongan lain di kapal yang sama. Karena kedua rombongan ini berbeda tujuan, rombongan kami mengejar waktu agar dapat mengunjungi banyak destinasi dengan waktu yang terbatas, sedangkan rombongan yang satunya ingin bersantai-santai, maka kami sering mengalami konflik kepentingan dengan rombongan yang satunya. Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Hantu. Di pulau ini banyak wahana olahraga air dan banyak wisatawan yang bersantai menikmati pemandangan. Di pulau ini kami menikmati wahana jet ski dengan harga IDR 180.000/orang. Jet ski ini dapat dinaiki oleh 2-3 penumpang dan dapat dikendarai sendiri jika Anda bisa. Jika dengan pemandu wisata, wisata jet ski ini hanya mengelilingi Pulau Setan 1 kali. Kemudian kami bermain banana boat dengan harga IDR 30.000/orang. Sayangnya karena tidak punya action cam, kami tidak dapat mendokumentasikan kegiatan selama mengelilingi Kep. Mandeh ini.

pulau_setan
Pulau Setan

Dari Pulau Setan kami menuju ke Pulau Sironjong Gadang untuk melakukan snorkling. Pemandangan bawah airnya bagus, banyak karang yang masih hidup dan ikan-ikan yang tinggal di karang tersebut. Setelah lebih dari 30 menit kami snorkling di Pulau Sironjong Gadang, kami meneruskan perjalanan ke Pulau Sironjong Ketek. Pulau ini adalah pulau yang berbatu-batu cadas. Ada wisata cliff jumping di pulau ini. Karena kami tidak ada yang ingin mencoba, jadi kami meneruskan ke perjalanan kembali ke dermaga. Selama mengelilingi Kep. Mandeh, menurut kami pemandangannya mirip seperti di Phi-phi Island dan Raja Ampat. Sesampainya di dermaga kami bebersih dan solat, kemudian beli makan dan pergi ke Bukit Mandeh (Puncak Nona) untuk melihat Kep. Mandeh dari ketinggian.

Dari Bukit Mandeh kami menuju ke Kota Padang untuk makan di RM. Kubang Hayuda. Itu adalah salah satu tempat makan yang direkomendasikan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang (DISBUDPAR). Ada 50 tempat makan yang direkomendasikan oleh DISBUDPAR Kota Padang, silahkan lihat daftarnya di tautan ini. Kami mencoba semua menu yang ada di rumah makan itu karena menu nya tidak banyak. Kami memesan sate padang, roti cane, martabak asin, mie goreng dan martabak manis. Sate padang disini beda bumbunya dengan di KMS kemarin, satenya lebih pedas dengan merica yang lebih sedikit. Makanan yang lain pun enak, tetapi mie gorengnya kurang asin sedikit.

30 Desember 2016:

Hari ke 5 ini kami mengunjungi banyak tempat, pertama kami ke Puncak Lawang. Dari Puncak Lawang pengunjung dapat melihat keindahan Danau Maninjau dari atas. Pemandangannya indah, air danay yang sangat jernih seperti cermin merefleksikan perbukitan disekitarnya dengan sempurna. Di tempat ini ada benyak wahana permainan, seperti flying fox, trampoline,  dan bebagai permainan anak lainnya. Pengunjung juga dapat duduk besantai menikmati pemandangan dari tempat ini. Tempat ini mirip seperti Bukit Paralayang di daerah Batu, Malang, JATIM. Selain itu,  di sini juga banyak pedangang souvenir dan makanan. Makanan paling unik yang kami coba adalah kerupuk, yang di atasnya dikasih bihun dan bumbu sate padang. Dari Puncak Lawang kami turun ke lokasi Danau Maninjau yang melawati jalanan berkelok yang terkenal selain kelok 9, yaitu Kelok 44. Di setiap belokan di Kelok 44 terdapat angka yang menunjukan belokan tersebut belokan ke berapa. Di lokasi Danau Maninjau sendiri tidak ada apa-apa, hanya ada perkampungan warga. Tidak seperti di Danau Singkarak. Jadi kami hanya solat Jum'at dan kemudian pergi dari Danau Maninjau untuk makan siang di tempat makan yang menyajikan itiak lado mudo.

Lokasi tempat makan itu lumayan jauh dari Danau Maninjau, yaitu di dekat Ngarai Sianok, Koto Gadang, Kab. Agam. Kami sampai di tempat makan sekitar jam 15.00 WIB. Itiak lado mudo ini adalah gulai itik yang direndam dengan banyak sambel hijau. Rasanya gurih, pedes, empuk dan bikin nagih! Satu ekor bebek muda di potong jadi 4 bagian. 1 potong itik harganya IDR 30.000. Kami makan 10 potong itik dan ditambah makanan yang lain plus makanan 2 orang supir mobil kami, totalnya IDR 800.000.

Sehabis makan sebagian dari kami (saya, Mama, 2 orang adik saya dan 2 orang sepupu saya) ke Jenjang Koto Gadang, sebagian lagi (Om, tante, adik saya, seorang sepupu saya dan anaknya) langsung ke Panorama Ngarai Sianok. Jenjang Koto Gadang ini adalah "tembok cina"-nya SUMBAR. Jalan di Jenjang Koto Gadang ini sangat terjal. Ini adalah daerah kelahiran salah satu pahlawan Indnesia, KH. Agus Salim. Di Puncak Jenjang Koto Gadang terdapat tugu kecil yang menandakan ini adalah tempat kelahiran KH. Agus Salim. Tebing tempat Panorama Ngarai Sianok dan puncak Jenjang Koto Gadang saling berhadap-hadapan. Setelah dari Jenjang Koto Gadang kami menyusul ke Panorama Ngarai Sianok. Selain bersantai menikmatin pemandangan, di Ngarai Sianok ada Goa Jepang. Goa ini letaknya 60 meter dibawah tanah. Di atas Goa Jepang ini terdapat area pemakaman umum. Ada beberapa pantangan di beberapa area Goa Jepang ini. Ada suatu area yang dilarang berfoto ber-3, ada juga area yang tidak boleh dimasuki oleh perempuan. Percaya atau tidak kembali kepada diri kita masing-masing. Kami menghindari semua pantangan yang ada agar tidak terjadi apa-apa karena kami masuk tanpa pemandu, jadi kami eksplorasi sendiri.

Kami pulang dari Panorama Ngarai Sianok saat hari sudah senja, sekitar waktu maghrib, jam 18.30 WIB. Kami solat dulu di kota Bukittinggi lalu pulang. Di perjalanan pulang Mama saya membeli 3 buah durian, agar  tidak tercium oleh saya dan adik-adik saya, supir kami menaruh durian tersebut di ruang mesin mobil. Saya baru tahu kalau Innova memiliki space yang cukup untuk menampung 3 buha durian di ruang mesinnya. Setelah itu kami makan di Warung Tenda J-24, makanan disini biasa saja, jus buahnya juga terlalu cair. Di dekat Warung Tenda J-24 ada yang jual bubur Kampiun. Sepupu saya beli untuk dimakan di penginapan.

31 Desember 2016 dan 1 Januari 2017:

Di hari terakhir ini kami kembali ke Nagari Tuo Pariangan, setelah sebelumnya kami tidak dapat masuk karena ada acara maulid Nabi Muhammad SAW. Terdapat tempat pemandian air panas di sini, yang ternyata adalah memang tempat mandinya warga desa. Bukan seperti di daerah Jawa yang kebanyakan sudah menjadi seperti kolam renang yang menjadi tujuan rekreasi wisatawan. Karena itu kami memutuskan untuk tidak mandi air panas. Di desa ini juga terdapat Prasasti Pariangan, yang juga bagian dari 3 buah batu berukuran yang cukup besar di desa Nagari Tuo Pariangan ini, yang di sebut Tigo Tunggu Sajarangan. Jarak antar batu sekitar 500 meter, dan jika ditarik garis, ketiga batu ini akan membentuk segitiga. Pada Prasasti Pariangan terdapat tulisan sansekerta yang telah memudar. Kata orang-orang desa itu prasasti yang ditulis oleh seorang Raja Pagaruyung pada jaman dahulu.

Dari Nagari Tuo Pariangan kami menuju ke Air Terjun Burai-Burai Indah, Kab. Agam, yang jaraknya lumayan jauh, sekitar 2 jam perjalanan. Air terjun ini berada di lembah di balik perbukitan dan letaknya dekat dengan persawahan warga. Kami harus melewati hutan dan menuruni/memanjat tebing yang curam untuk mencapai air terjun ini. Seteleh melewati tebing, kami harus menyebrangi sungai dengan melewati jembatan bambu. Sisi baiknya, air terjun ini tidak berada dipinggir jalan seperti kebanyakan air terjun di SUMBAR ini. Jadi airnya masih sangat bersih, jernih dan segar. Kami semua nyebur di air terjun ini. Perjuangan melewati hutan dan tebing terbayarkan.

Sepulang dari Air Terjun Burai-Burai kami singgah di RM. Uni Evi, Sicincin, Padang Pariaman. untuk membeli makan siang. Ikan bakar di tempat ini terkenal enak dan murah. 1 ekor ikan bakar harganya IDR 50.000 Kami beli 3 ekor ikan bakar, dan beberapa lauk lain, sehingga totalnya IDR 250.000. Semua menu ini kami beli untuk dimakan di penginapan karena kami semua sudah capek. 

Kami semua sudah sampai di penginapan sekitar jam 15.00 WIB, setelah makan siang dan bebersih, Mama saya pergi belanja oleh-oleh, sedangkan saya dan 2 orang sepupu saya mencari jagung dan perlengkapannya untuk bakar-bakar jagung pada malam harinya. Harga jagung disini sangat murah. Kami beli di tempat petani jagung, dia memberi harga untuk jagung ukuran sedang IDR 1.000 dan ukuran besar IDR 1.500. Kami beli 17 jagung. Kami mulai bakar-bakar sekitar jam 20.00 WIB karena besoknya kami harus pergi pagi-pagi sekali dari penginapan. Kami check out dari penginapan jam 07.30, perjalanan 2 jam ke bandara Minangkabau. Kami sampai tepat waktu, bahkan counter check-in Lion Air belum buka. Flight kami ke Jakarta jam 10.30.

Share this post to the world:
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinFacebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *