Kilauan Danau Labuan Cermin

Wohooo! Main di laut lagi ­čîŐ

A post shared by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

22 Juli 2017: Keberangkatan

Ini adalah kedua kalinya saya berlibur ke daerah Berau, Kalimantan Timur. Yang pertama adalah saat saya ke Kepulauan Derawan 5 tahun yang lalu. Rencana liburan ini dibuat mendadak oleh Ibu saya beberapa hari sebelum keberangkatan dengan destinasi utama Danau Labuan Cermin. Liburan ini adalah kejutan spesial untuk Ayah saya yang jarang bisa ikut berlibur bersama kami karena jadwal kerja Beliau yang sibuk. Karena saya dan adik-adik saya yang masih berkuliah sedang libur dan Ayah saya akan ada jadwal libur dari tanggal 21 Juli, maka dibuatlah rencana liburan ini. Jadi, ini adalah yang pertama kalinya kami liburan lengkap satu keluarga. Liburan kami kali ini berdurasi 4D3N, karena perjalanan menuju lokasi wisatanya yang sangat jauh sehingga dapat dihitung 1 hari perjalanan sendiri, jadi waktu bermain kami hanya 2 hari. Kami berangkat dari Balikpapan dengan menggunakan pesawat jenis ATR dari maskapai Wings Air ke Berau, waktu tempuh perjalanannya sekitar 55 menit. Kami mendapat harga tiket pesawat yang cukup murah. Untuk perjalanan pulang-pergi tiket pesawat kami sekitar Rp. 1 juta/orang, dengan maskapai Sriwijaya Air untuk perjalanan pulang dari Berau ke Balikpapan. Pesawat Sriwijaya Air yang kami gunakan adalah jenis Boeing 737-500, sehingga waktu tempuhnya menjadi lebih cepat, yaitu sekitar 45 menit.

Kami sampai di bandara Kalimarau Berau sekitar jam 11.00 WITA. Bandara Kalimarau telah mengalami peningkatan yang drastis dari 5 tahun yang lalu. Dulu, bandara ini sangat terlihat kumuh dan tua. Sekarang bandara ini terlihat lebih mewah dan modern dengan apron yang telah diperbesar juga. Desain bandara Kalimarau mirip dengan bandara Sepinggan Balikpapan. Sedikit keluar dari topik, sebenarnya nama bandara Sepinggan telah diubah menjadi Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, tetapi saya tidak suka nama baru ini karena terlalu dipaksakan. Saat akan mengalami perubahan nama oleh Gubernur KALTIM, Awang Faroek, banyak warga balikpapan yang menolak. Jadi, saya tetap akan menyebutnya bandara Sepinggan saja. Kembali ke topik, sesampainya di bandara kami telah dijemput oleh supir (yang akan menjadi tour guide kami juga) yang akan mengantarkan kami ke penginapan di daerah Biduk-Biduk. Jalan dari Berau ke Biduk-Biduk melalui perbukitan dan banyak kondisi jalan yang rusak. Jika dilihat dari Google Maps waktu tempuh perjalanan adalah 12 jam, tetapi perjalanan kami hanya sekitar 6 jam dengan kecepatan mobil rata-rata 80 km/jam. Fasilitas antar jemput pulang-pergi dari Berau ke Biduk-Biduk kami dapatkan dari penginapan dengan harga Rp. 850 ribu untuk sekali jalan, jadi untuk pulang-pergi menjadi Rp. 1,7 juta. Kami sampai di penginapan sekitar jam 17.00 WITA. Kami menyewa 2 kamar yang memiliki fasilitas AC dengan harga Rp. 200 ribu/malam, jadi untuk 3 malam penginapannya Rp. 600 ribu. FYI, untuk kamar tanpa AC harganya Rp. 150 ribu/malam. Penginapan ini bentuknya seperti rumah kos-kosan dan terbagi menjadi 2 bangunan. Kami mendapatkan penginapan yang dipinggir pantai yang memiliki gazebo untuk bersantai menikmati sunrise dan sunset. Di penginapan ini kami juga mendapatkan sarapan dan makan malam. Perlu diingat, di daerah Kabupaten Berau ini, seperti waktu saya berlibur ke Kep. Derawan, aliran listrik hanya tersedia dari jam 18.00 WITA-06.00 WITA, pada pagi-sore hari listrik padam. Ini adalah kekurangan yang tragis sebab Kalimantan terkenal dengan tambang MIGAS dan batu bara-nya. Tetapi PLN di kalimantan tidak dapat memberikan pelayanan listrik yang merata, hanya di kota-kota besar seperti Balikpapan, Samarinda, Bontang, Banjarmasin, dsb. yang mendapatkan aliran listrik 24 jam. Setelah check-in dan meletakkan barang-barang, kami diajak ke daerah paling ujung dari kampung Biduk-Biduk ini, yaitu Teluk Sulaiman. Di sini ada pangkalan militer AL dan dermaga kapal-kapal nelayan. Daerah ini sangat enak untuk bersantai dipinggir pantai. Airnya jernih ddan pasirnya putih. Kelapa muda yang dijual dipantai ini enak sekali. Kami mencari informasi tentang tempat-tempat wisata di sekitar sini, dan ada yang memberitahukan kami tentang Pulau Kaniungan. Di pulau ini kami dapat melakukan snorkeling. Di dekat pantai ini adalah habitat penyu sehingga kami dapat melihat dan bermain dengan penyu-penyunya. Pulau Kaniungan dan sekitarnya menjadi destinasi wisata kami untuk esok harinya.

Kelapa Muda di Teluk Sulaiman

23 Juli 2017: Pulau Kaniungan, Penyu dan Ikan Sunu

Kami berangkat dari penginapan sekitar jam 8 pagi setelah sarapan menuju ke arah teluk sulaiman untuk naik kapal keliling Pulau Kaniungan dan perairan tempat para penyu tinggal. Pertama-tama kami dibawa menuju ke Air Terjun Bidadari. Air terjun ini lokasinya tidak jauh dari pantai yang berada di Teluk Sumbang. Selama perjalanan kesana kami melewati daerah perairan habitat penyu. Banyak sekali penyu yang kami lewati, tetapi kami tidak berhenti karena kami akan bermain dengan penyu sebelum pulang.

Dari Teluk Sumbang kami dibawa ke Pulau Kaniungan. Di sana kami dapat bermain dan snorkeling untuk melihat pemandangan bawah laut. Saat kami kesana air lautnya sudah agak surut, sehingga pada ketinggian air yang hanya se-dada saya (tinggi badan saya sekitar 180 cm) kami sudah dapat menikmati pemandangan bawah laut yang lumayan. Saya berenang sedikit lebih jauh untuk menikmati pemandangan bawah laut yang lebih keren, melewati karang besar yang menjadi pembatas antara laut dangkal dengan yang agak dalam (kedalaman sekitar 5 meter lebih). Bentuk dataran bawah laut di Pulau Kaniungan ini dari bibir pantai yang landai, langsung curam ke bawah dan semakin curam ke arah tengah laut. Setelah bermain air dan snorkeling kami makan siang, beristirahat dan bebersih untuk melakukan solat sambil menunggu air laut pasang kembali.
Kami pergi dari Pulau Kaniungan sekitar jam 14.30 WITA.

Ikan Bawis Sambal Gami

Cumi Goreng

Ikan Baronang Bakar

Dari Pulau Kaniungan kami dibawa ke balong tempat penangkaran udang lobster yang berada di tengah laut. Kami kemari karena nahkoda kapal kami sakit dan digantikan oleh rekannya yang sedang berada di balong ini. Kami berada di balong ini cukup lama karena kami melihat-lihat dan bertanya tentang ikan lain yang ada di balong ini selain udang lobster yang dikembang-biakkan di sini. Dari balong ini kami mendapatkan hadiah seekor ikan kerapu yang jarang kami lihat. Orang-orang sana menyebutnya ikan sunu. Warna ikannya merah dan memiliki corak totol-totol. Kata orang di balong, ikan itu paling enak disantap dengan cara dibakar.

Setelah puas melihat-lihat dan bertanya di balong ini, kami dibawa bermain dengan penyu.
Kami sempat berfoto dengan 2 ekor penyu yang berukuran sedang dan besar. Setelah itu penyu-penyu tersebut kami lepaskan kembali dengan aman ke perairan lepas. Malam harinya kami makan malam dengan menu ikan sunu bakar yang kami dapatkan dari balong. Rasanya enak banget!

Ikan Sunu Segar

Ikan Sunu Bakar

24 Juli 2017: Hiu Paus, Telaga Biru dan Labuan Cermin

Hari ini adalah hari utama dari perjalanan kali ini. Kami akan mengunjungi Danau Labuan Cermin. Tetapi jika pagi-pagi sekali kesananya, airnya sangat dingin sekali, sehingga disarankan siang-siang kesananya. Agar tidak membuang waktu, kami memutuskan untuk ke daerah Talisayan untuk melihat ikan Hiu Paus. Kami berangkat dari penginapan jam 03.40 WITA, perjalanan dari Biduk-biduk ke Talisayan sekitar 2 jam. Kami sampai disana sekitar jam 5-an. Ikan ini tidak muncul sepanjang tahun kepermukaan, hanya jika angin laut tenang dan air laut sedang tidak berombak besar. Kira-kira sekitar pertengahan sampai akhir bulan tahun Hijriah (sistem penganggalan umat islam yang perhitungannya berdasarkan peredaran bulan terhadap bumi), jadi setelah bulan purnama sampai bulan mati, dan saat angin laut sedang angin muson timur (sekitar bulan April s/d Oktober). Waktu-waktu ini sangat cocok untuk bermain di laut karena kondisi laut yang bersahabat. Saat kami melakukan perjalanan ini kebetulan sekali sangat memenuhi kriteria kondisi laut tersebut, sehingga kami tidak perlu mencari ikan Hiu Pausnya terlalu jauh ketengah laut. Hanya 30 menit dari dermaga sudah ada segerombolan ikan Hiu Paus di sebuah bagan, gerombolan ini terdiri dari 5 ekor ikan. Hal ini sangat jarang terjadi, ikan sebanyak itu bergerombolan muncul ke permukaan. Orang-orang di bagan sedang memancing mereka untuk tetap di permukaan dengan memberikannya makan ikan-ikan kecil. Biasanya ikan Hiu Paus yang muncul kepermukaan hanya 1-2 ekor saja. Kami sangat beruntung sekali! Begitu kapal kami menepi ke bagan, kami langsung mengambil foto ikan-ikan ini. Sang pemilik kapal menyeburkan laut duluan untuk berenang dan mengambil foto underwater bersama ikan-ikan Hiu Paus. Ini pertama kalinya saya mendapatkan pengalaman ini jadi saya masih takut-takut untuk berenang dengan ikan Hiu besar tersebut, walaupun mereka memang terkenal jinak. Jadi, sebelum masuk ke air saya memutuskan untuk memakai pelampung untuk berjaga-jaga kalau saya panik nantinya (keputusan ini sangat saya sesali karena membuat saya tidak dapat mengambil foto underwater dengan pose yang bagus bersama ikan-ikan Hiu Paus ini). Saat berenang bersama ikan-ikan tersebut saya dapat menyentuk punggung ikan ini dan merasakan kulitnya yang kasar. Menakjubkan! Kalian harus merasakan sendiri pengalaman ini. Saya tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Saya berenang dengan ikan-ikan Hiu Paus ini selama 45 menit. Setelah itu kami kembali ke dermaga untuk sarapan.

Kami sarapan nasi kuning di rumah pemilik kapal. Setelah sarapan beliau mengantarkan kami ke satu lokasi wisata yang tidak banyak diketahui orang, yaitu suatu sungai dengan arus yang deras. Jika debit airnya tinggi maka dapat digunakan untuk arung jeram. Tetapi sayangnya saat kami kesana debit airnya sedang kecil, sehingga hanya bisa digunakan untuk bermain air. Pemandangannya lumayan indah.

Setelah dari sungai tersebut kami menuju Telaga Biru. Perjalanannya cukup dekat. Telaga Biru mirip dengan Labuan Cermin tetapi lebih dangkal. Telaga Biru adalah sumber mata air yang sangat jernih dan berwarna sangat biru.

Dari Telaga Biru kami baru menuju ke Danau Labuan Cermin. Labuan Cermin adalah danau yang sangat unik karena terletak sangat dekat dengan laut, logikanya seharusnya air danau ini asin. Kerennya, air danau ini tidak hanya asin, tetapi ada air tawarnya juga! Jika di Selat Gibraltar air laut dan tawar bertemu berdampingan, di Labuan Cermin air laut dan tawarnya bertumpuk. Air laut berada di bawah air tawar. Mungkin hal ini disebabkan oleh massa jenis air laut yang lebih berat dari air tawar. Kedalaman danau Labuan Cermin sekitar 5-8 meter.
Jika kalian berenang ke dalamnya, buka mulut sedikit, dan kalian akan merasakan perbedaan air tawar dan air asinnya dengan jelas. Air di Labuan Cermin sangat jernih sekali, sehingga objek yang berada di dasarnya terlihat sangat jelas dari permukaan. Foto-foto Labuan Cermin yang tersebar di internet memang sangat akurat. Jika kalian berkunjung ke sana, kalian akan melihat seperti apa yang kalian lihat pada foto-foto danau ini yang tersebar di internet. Kami sangat menikmati bermain air di danau ini. Kami berada di danau ini cukup lama karena tidak ada pengunjung selain kami. Kami sangat beruntung. Jika musim liburan danau ini sangat ramai dikunjungi oleh wisaatwan sehingga sangat padat dan kalian tidak dapat menikmati pemandangan dan air danau ini dengan leluasa.

25 Juli 2017: Pulang Ke Balikpapan

Kami berangkat dari biduk-biduk jam 6 pagi karena perjalanan yang sangat jauh untuk menuju bandara Kalimarau. Kami sampai di Berau jam 11 siang, karenea supir kami menyetir mobil seperti orang gila, ngebut banget! Sehingga waktu tempuh perjalanan dapat dipotong 1 jam. Ibu saya meminta diantarkan ke pasar induk yang ada di sana untuk membeli beberapa oleh-oleh khas Berau. Kami sampai di bandara sekitar jam 12 siang dan harus menunggu check-in counter buka pada jam 13.00 WITA. Penerbangan kami ke Balikpapan jam 16.00 WITA. Kami sampai di Balikpapan Jam 17.00 WITA.

Rincian Biaya Perjalanan (6 orang)

Harga yang saya jabarkan dibawah ini di luar makan, karena harganya sangat bervariasi.


Tiket Pesawat PP Balikpapan-Berau: Rp. 1 juta/orang x 6 orang = 6 juta
Sewa mobil PP Berau - Biduk-biduk (termasuk BBM): Rp. 1,7 juta
Biaya sewa mobil selama 2 hari untuk berkeliling Biduk-biduk dan sekitarnya (termasuk BBM): Rp. 200k
Penginapan 2 kamar AC untuk 3 malam (termasuk sarapan dan makan malam): Rp. 1,2 juta
Sewa kapal untuk berkeliling Teluk Sumbang, Pulau Kaniungan dan sekitarnya: Rp. 500k (termasuk tip)
Sewa kapal untuk menuju ke bagan untuk melihat Hiu Paus: Rp. 700k (termasuk tip)
Tiket masuk kawasan wisata Labuan Cermin @20k: Rp. 120k
Sewa perahu untuk menuju ke Labuan Cermin: Rp. 300k
Sewa pelampung @15k: Rp. 45k
Total biaya: Rp. 10,76 juta
Biaya rata-rata perorang: Rp. 1,79 juta

Share this post to the world:
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinFacebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *