Europe Trip: The Beauty of Swiss

22-24 Sept 2013: Wow, Swiss!

Swiss adalah negara yang sangat menonjolkan pariwisatanya sebagai sumber pendapatan devisa negara. Mereka sangat serius menggarap ini, wisata alam mereka sangat indah, kota-kotanya juga, bagunan klasik mereka rawat dengan baik. Selama di Swiss Kami menetap di kota Luzern (Lucern) yang berada di tengah-tengah Swiss. Saya sangat menimati negara kecil ini.

 Kota Luzern

Dari bandara di Zurich kami menggunakan kereta untuk kota Luzern. Kereta di sini juga modern seperti di Jerman dan Inggris. Saat itu sudah sore, kereta dipadati oleh penumpang, kebanyakan dari mereka mungkin ini pergi hang out dengan teman-temannya karena seingat Saya itu hari Jumat, baru mulai weekend. Setibanya di Luzern sudah malam, dari central station Kami menggunakan taksi karena kami ingin cepat sampai ke penginapan dan bawaan Kami sangat banyak (cewek-cewek kalo belanja suka gak kira-kira emang -_-"). Kami agak kesulitan menemukan penginapannya karena tidak ada plang nama di depan bangunannya.

Saat itu penginapan sudah sepi, para pengunjung sudah tidur. Kamar saya, sepupu-sepupu dan orang tua saya semua terpisah. Saat Saya masuk kamar, lampu sudah dimatikan dan sehingga Saya juga langsung tidur setelah memasukan barang-barang di loker. Pagi hari nya Saya baru tahu kalau Saya sekamar dengan sekelompok orang-orang Korea, dan semuanya cewek. Pada malam kedua, kamar saya dipindahkan agar Saya, sepupu-sepupu saya dan orang tua saya berdekatan jarak kamarnya. Kali ini room mates saya 2 orang cowok semua. Ada yang dari Korea,  dia juga seorang backpacker. Dia telah mengunjungi tempat yang lebih banyak dari Saya. Saat Saya menceritakan itinerary Saya, dia berpendapat kalau lebih enak stay lama di Paris dibanding di London (akhirnya setelah berada di Paris Saya setuju dengannya). Yang satu lagi orang Indonesia, dia dari Malang. Dia seorang backpacker juga. Sayangnya Saya lost contact dengan mereka.

Pagi hari pada hari pertama Kami berjalan kaki menuju central station, ternyata sangat dekat jaraknya dengan penginapan Kami. Di Luzern ini ada semacam sungai yang sangat lebar yang di ujung-ujungnya terdapat pintu air. Ada 2 tipe jembatan yang digunakan untuk menyebrangi sungai ini, yang pertama jembatan beton yang kedua adalah jembatan kayu yang sering memang dijadikan objek wisata oleh para turis, Jembatan Kapel.

Di Luzern ada sebuah tur yang menawarkan city sightseeing dengan menggunakan Segway, karena kota ini tidak terlalu besar maka tur ini masuk akal diadakan di kota ini. Saat melihat kelompok orang yang melakukan tur ini di dekat central station, Saya jadi tertarik dan mencari info tentang tur ini. Harganya USD 150 per orang dan harus booking paling telat 1 minggu sebelum kedatangan di kota ini. Sayang sekali, syarat yang terakhir tidak memungkinkan Saya untuk mencoba tur ini. Sesampainya di central station kami menuju ke tourist information center. Di sana kami menemukan informasi mengenai Gunung Titlis dan Pilatus. Gunung Pilatus letaknya lebih dekat dengan Luzern jadi kami ke sana dulu, baru berikutnya ke Gunung Titlis yang berada di Engelberg.

Gunung Pilatus

Seri foto keselip: Paragliding at Mt.Pilatus #switzerland #paragliding #sunny #mountaintop

A photo posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

Untuk menuju ke lokasi gunung ini dari Luzern kami menggunakan kereta. Kemudian untuk mencapai puncak gunungnya kami menggunakan kereta gantung. Selama di kereta gantung ini kota Luzern dapat dilihat dari atas dengan jelas. Kota ini rapi sekali dan airnya jernih. Gunung ini tidak bersalju, di puncaknya ada restoran, spot berfoto dan spot untuk melakukan paragliding. Pemandangandari puncak gunung ini juga unbelievable, I can't describe it. Untuk turun dari puncak gunung ini, para wisatawan diberikan kereta, ya kereta, bukan kereta gantung! Uniknya (dan keren) badan kereta ini dibuat seperti badan serangga yang berbuku-buku, sehingga bergerak menuruni puncak gunung sampai ke bawah kursi penumpang tetap tegak walaupun jalannya miring. Untuk pulang menuju Luzern kami menggunakan kapal yang memberika pemandangan yang tidak kalah keren dari di darat. Rute perjalanan kami kira-kira seperti ini:

Gunung Titlis

Seri foto keselip: Mt.Titlis, Swiss. Gak kalah dari NorthFace lah..hahaha #switzerland #mountaintop #snow

A photo posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

Untuk menuju ke lokasi gunung ini dari Luzern kami menggunakan kereta ke kota Engelberg. Kemudian untuk mencapai puncak gunungnya kami menggunakan kereta gantung sama seperti di Gunung Pilatus. Engelberg adalah kota kecil yang tenang, modern dan bersih. Kota ini enak sekali digunakan untuk menghabiskan hari tua. Sambil menunggu kereta ke puncak gunung Titlis, kami berkeliling di Engelberg. Air di selokan ini jernih sekali, tidak butek dan berbau seperti di Indonesia. Pemandangan di kota ini asri. Benar-benar kota yang terawat. Berbeda dengan Gunung Pilatus, gunung ini bersalju. Di sinilah Saya pertama kali mencoba salju (katroknya orang dari iklim tropis).  Di gunung ini ada berbagai wahana untuk menikmati pemandangan bersalju ini, ada Ice Flyer Ride, arena bermain seluncur salju dengan menggunakan papan seluncur yang diduduki, dan spot berfoto. Pemandangan dari puncak gunung ini juga tidak kalah keren dari Gunung Pilatus.

The beauty of Luzern, Mt. Titlis, Engelberg, Mt.Pilstus #switzerland

A photo posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

Rhine Falls

swiss_map_2

Kali ini rutenya berbeda dari 2 objek wisata sebelumnya. Rhine Falls berada perbatasan antara Koln,Jerman dan Zurich, Swiss. Dari Luzern saya dan orang tua saya menggunakan kereta ke Zurich, kemudian dari sana ke Rhine Falls menggunakan bis. Kami melewati perbatasan darat antara Swiss dan Jerman. Kami juga melewati sebuah desa yang cantik dengan seluruh bangunannya bergaya klasik. Rhine Falls ini tidak tinggi, tetapi lebar. Memang ini sebenarnya adalah sungai Rhine yang memiliki undakan yang cukup terjal. Ada legenda mengenai Rhine Falls ini, dahulu ada seseorang yang mencoba menaklukkan derasnya air di Rhine Falls ini, tetapi dia malah menghilang. Warga sekitar menanggapnya telah meninggal karena sampai sekarang jasadnya tidak pernah ditemukan. Jika pada malam hari ada yang memanggil dari tengah sungai Rhine ini, warga mengaggap itu adalah arwah orang tersebut yang menginggal penasaran.

Rhine Falls dan sekitarnya, #switzerland

A photo posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

Goodbye Swiss!

Perjalanan di Swiss telah berakhir. Berikutnya rombongan kami terbang menuju ke Paris dari Zurich. Pesawat yang akan kami tumpangi bermasalah, seharusnya kami naik pesawat jenis Boing 737, tetapi diganti oleh maskapainya menjadi Bombardier CJR700. Banyak menumpang yang menunda penerbangannya ke Paris karena masalah ini. Kami tidak bisa melakukan itu karena jadwal kami sudah tertata dan sangat ketat. Semua tiket dan hotel sudah dipesan sehingga tidak bisa ada keterlambatan. Karena itu kami menerima pergantian pesawat ini, sisi baiknya pesawat ini menjadi lowong. Kami mendapatnya 12 kursi untuk ber-6, sehinnga 1 orang dapat 2 kursi! Paris je viens!

Terbang ke Paris pake Bombardier CJR700 berasa naik jet pribadi, dpt 12 kursi utk ber-6..haha

A photo posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

Oh iya, ada hal yang menarik di Bandara Zurich, dan hal ini saat ini (tahun 2016) dipakai di Kantor Wali Kota Semarang. Mereka menyebutnya itu hologram, tetapi menurut saya bukan. Jadi begini ceritanya, saat saya melintasi Duty Free di bandara tersebut, Saya heran dan kagum melihat sosok seorang wanita yang mempromosikan sebuah produk rokok. Dia terliaht sangat nyata tetapi saya tahu dia tidak nayata. Ternyata itu ada sebuah video iklan, dimana wanita tersebut mempromosikan rokok tersebut dan videonya diproyeksikan di selembar arklirik yang dipotong sesuai dengan ukuran asli dan bentuk tubuh wanita tersebut. Berikut ini videonya:

#davidoff creative ads at Zurich Airport Duty Free

A video posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

Karena semua dokumentasi perjalan di Eropa Saya hilang, jadi saya tidak bisa menceritakan secara detail seperti pada blog post tentang London dan Amsterdam. Saya menggunakan beberapa foto yang sempat Saya upload ke Instagram selama di Eropa.

Share this post to the world:
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinFacebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *