Europe Trip: Jerman, Ya Ampun!

 

18-21 Sept 2013: Jerman, ya ampun!

Jerman sangat terkenal karena teknologinya yang sangat canggih dan orang-orangnya yang cerdas. Negara ini sangat dinamis. Modern, klasik, perkotaan, wisata alam, semuanya tertata dengan sangat rapi.

Berlin


Kesan pertama yang Saya dapatkan begitu tiba di kota ini adalah, "Damn, the people are so arrogant!". Di tourist information center-nya saja Saya tidak mendapatkan pelayanan yang ramah, sehingga setelah dari sana Saya bertanya kepada orang-orang di sekitar bandara untuk tempat tujuan wisata di kota ini. Orang-orang Jerman banyak yang tidak bisa Bahasa Inggris, sehingga Saya sulit berkomunikasi dengan mereka walaupun Saya membawa kamus Bahasa Jerman. Jadi nyesel waktu SMA Saya tidak memperhatikan baik-baik pelajaran Bahasa Jerman (-_-").

Dari bandara Kami menuju ke apartment yang Kami sewa dengan menggunakan taksi. Dalam perjalanan ke tengah kota, Kami melewati bekas tembok pembatas antara Berlin Timur dan Berlin Barat. Terlihat sekali perbedaan mencolok. Bekas Berlin Timur masih terlihat kumuhnya, sedangkan bekas Berlin Barat terlihat lebih modern. Perlajanan kurang lebih 30-40 menit. Apartment yang Kami tempati di Berlin ini tidak sebagus yang di London tetapi kamar-nya lebih besar, walaupun Kami tetap harus menyewa 2 kamar. Apartment ini juga lebih tua dan usang. Lorongnya gelap sekali kalau malam. Toilet di kamar mandinya susah disentor (flush). Keunggulannya apartment ini memberikan wifi gratis walaupun di hanya bisa diakses di dekat pintu kamar apartment. Di dekat apartment Kami ada rumah makan pakistan yang menyediakan makanan halal, karena di Jerman susah mencari makanan halal. Walaupun tinggal di tengah kota Kami tidak melihat kepadatan seperti di Jakarta.

 

Berlin Highlight

A photo posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

Hari pertama saudara-saudara Saya memilih untuk beristirahat di apartment, sedangkan saya berkeliling di sekitar. Saya menemukan ada department store dan semacam titik berjualan para pedagang street food. Hari berikutnya saya sarapan di apartment, makanannya standar orang-orang eropa, roti dan susu, rasanya tidak berbeda dengan di Indonesia, roti gandumnya, susunya, butter-nya sama. Setalah sarapan rombongan Kami menuju ke Tembok Berlin dengan mebggunakan kereta (Bahn). Stasiun keretanya sangat modern, mirip seperti bandara-bandara di Indonesia. Ada pusat perbelanjaan dan tourist information center. Sesampainya di Tembok Berlin, Kami berpencar mengeksplorasi tempat wisata ini. Saya suka bangunan bergaya kuno yang dipelihara di sekitar sana. Ada monumen yang memperingati para korban Perang Dunia II, kantor Uni Eropa dan gedung kantor Kanselor Jerman. Arsitektur bangunan disini juga banyak yang kontemporer seperti di Amsterdam. Di sana ada 2 orang yang menggunakan kostum tentara Nazi Jerman dan Amerika saat Perang Dunia II. Mereka menyewakan jasa foto bersama untuk para turis. Tarif mereka EUR 2-5 untuk sekali foto. Saat Saya mengobrol dengan mereka, mereka bercerita bahwa mereka sudah 2 kali liburan ke Indonesia, ke Bali dan Pulau Komodo. Hebat sekali mereka ini. Berikutnya Kami menuju ke Friedrichstrasse untuk menikmati kota Berlin dari atas air dengan tur kapal. Harga tikernya sekitar EUR 15-20 per orang, dan ada diskon untuk pelajar. Sepupu Saya ada yang dikira masih pelajar SMA padahal sudah selesai kuliah S1, hahaha. Pemandangan dari atas sungai ini bagus sekali, Kami banyak melewati bangun-bangunan yang megah. Kami juga mengunjungi Kaufhaus Des Westens, atau yang lebih dikenal dengan KaDeWe. Itu adalah mall yang katanya termegah di Eropa. Tapi menurut Saya mall itu gak ada apa-apanya di banding Grand Indonesia atau beberapa mall super megah di Jakarta. Bangunannya klasik, bagus. Di sana saya membeli miniatur orang terbang seperti yang digambar oleh Da Vinci. Sedangkan orangtua dan sepupu-sepupu Saya belanja yang lain. Saya menunggu mereka di kedai pizza di seberang KaDeWe. Harganya sangat murah, sepotong pizza yang ukurannya kira-kira 2 kali lipat potongan large pissa di Pizza Hut Indonesia dihargai EUR 1 atau 2, saya lupa pastinya dan sekaleng bir di sana harganya EUR 3-5, saya juga lupa pastinya.

Itu saja yang Saya ingat selama di Berlin. Keesokan harinya Kami menuju Frankfurt dengan menggunakan pesawat. Kami transit di Dusseldorf. Kami sempat ngobrol dengan seorang wanita Jerman di bandara, dia tanya kenapa kita lewat Dusseldorf ke Frankfurt nya, karena  itu seperti dari Surabaya mau ke Padang tapi transit di Batam, muter-muter, setelah memeriksa peta di handphone, Kami sadar betapa bodohnya Kami mengambil jalur penerbangan ini karena membuang-buang banyak waktu.

german_map

Jalur hijau adalah direct flight dari Berlin ke Frankfurt, jalur biru muda adalah jalur penerbangan Kami yang transit di Dusseldorf dulu.

Frankfurt und Munchen

 

Frankfurt-Munich yang lebih ramah dari Berlin.

A photo posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

Frankfurt am main, atau yang lebih dikenal dengan Frankfurt adalah kota dagang yang sangat modern. Terdapat lebih banyak skyscraper dibanding Berlin Ibu Kota Jerman. Kota ini adalah kota dagang. Banyak sekali bank-bank dan kantor multinasional disini. Saking majunya mereka menyamakan dengan Manhanttan-nya Amerika Serikat. Karena itu juga, orang-orang di sini lebih ramah dan lebih banyak yang dapat Berbahasa Inggris dibanding di Berlin. Ada sungai besar yang bernama Main River yang di tengahnya terdapat pulau kecil tak berpenghuni. Kami tidak lama berada di kota ini hanya beberapa jam, karena selanjutnya Kami akan berangkat menuju Munchen. Saat saya berkeliling di kota ini, saya menemukan banyak taman-taman dengan hiasan bergaya kontemporer, yang paling saya ingat adalah 2 buah lingkaran besar yang jika dilihat tegak lurus akan berbentuk seperti Pretzel. Ngomong-ngomong soal Pretzel, Pretzel di stasiun utama kereta Frankfurt sangat enak. Ada juga sebuah bangunan tinggi yang rooftopnya di buka sebagai tempat wisata untuk melihat landscape kota Frankfurt, kalau tidak salah namanya Main Tower. Pemandangannya bagus sekali. Kota ini terlihat sangat rapi.

frankfurt_maintower_panorama

Kami pergi menuju Munchen dengan menggunakan bullet train  Di Munchen Kami menginap di budget hotel, Jager Hotel yang ternyata bagian lantai dasarnya adalah sebuah bar. Sebuah blunder bagi orang tua saya. Di kota ini Kami mengunjungi BMW Museum yang berisi semua seri BMW dari yang jadul sampe mobil konsepnya yang dipakai di film Mission Impossible Ghost Protocol. Di museum ini juga ada mesin simulasi dan arena test drive. Selain itu juga Kami mengunjungi museum transportasi yang isinya banyak sekali kendaraan udara, laut dan darat. Museum ini bagus sekali, tidak ada museum seperti ini di Indonesia. Sayangnya, Saya tidak sempat ke Allianz Arena saat di Munich. Selanjutnya Kami akan menuju ke Swiss.

Karena semua dokumentasi perjalan di Eropa Saya hilang, jadi saya tidak bisa menceritakan secara detail seperti pada blog post tentang London dan Amsterdam. Saya menggunakan beberapa foto yang sempat Saya upload ke Instagram selam di Eropa.

Share this post to the world:
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinFacebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *