Derawan Yang Menawan

Pos Dalam Bahasa Indonesia

Juli 2012: Kep. Derawan

Saat itu Saya sedang libur kuliah, Mama saya mengajak saya, ketiga adik saya, om & tante saya beserta 2 orang anak dan seorang cucunya, dan 2 sepupu saya yang lain untuk berlibur ke Pulau Derawan. Totalnya Kami serombongan bersebelas. Di sana tempatnya masih bagus, belum begitu banyak pengunjung dan masih murah. Kami menggunakan jasa tur wisata dengan biaya 1,5 juta per orang di luar tiket pesawat ke Berau (sekarang, 2016 harganya sekitar 2,2 juta per orang) untuk durasi 3 hari 2 malam. Kami berangkat dari Balikpapan agak siang, dengan menggunakan Batavia Air (waktu itu belum bangkrut). Perjalanan kesana sekitar 50 menit-an. Sesampainya di Bandara Kalimarau Saya sangat terkejut karena bandara ini kecil sekali. Pesawat Boing 737 Batavia tidak dapat parkir di depan gedung bandara karena tempatnya terlalu sempit untuk ukuran pesawat sebesar itu, sehingga kami harus berjalan kaki ke bandaranya dari pesawat. Ruang kedatangannya pun hanya sebesar ukuran 2 kamar kalau digabung dengan sebuah conveyor yang kecil untuk mengeluarkan bagasi-bagasi penumpang.

Di bandara Kami dijemput dengan menggunakan 2 mobil Avanza dari pihak tur wisata yang Kami sewa. Perjalan ke pelabuhan Tanjung Redeb ditempuh selama 2 jam. Pemandangan sepanjang jalan tidak ada yang menyenangkan. Ciri khas perjalanan darat di Kalimantan. Di tengah jalan Kami berhenti sebentar untuk makan siang kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Sesampainya di pelabuhan Kami langsung naik kapal motor untuk mencapai Pulau Derawannya. Perjalanan ditempuh selama sekitar 40 menit. Penginapan Kami adalah sebuah cottage di atas air di Pantai Pulau Derawan. Kami sampai di sana sekitar jam 5 sore. Saya dan 2 orang sepupu saya langsung berenang mencicipi air pantainya yang sangat jernih. Seluruh dokumentasi perjalanan Saya ke sini juga hilang seperti perjalanan ke Eropa saya karena harddisk external saya rusak. Jika di lihat dengan menggunakan satelit milik Google begini penampakan Kepualauan Derawan, menarik kan?

Post In English

It was college holiday, me, my Mom, my sisters, my uncle and aunt and their two children and a grandson, and my other two cousins went for a vacation to the Derawan Islnads in Berau, Kalimantan Timur. We were a group of eleven in total. Derawan Islands was a great place, not so many visitors and still cheap. I heard that now, in 2016, there are a lot of damages caused by irresponsible visitors. We used the services of tours at a cost of 1.5 million rupiahs per person excluding air tickets to Berau (now, in 2016 the price is about 2.2 million per person) for a trip duration of 3 days and 2 nights. We departed from Balikpapan rather late, using Batavia Air (it was not yet insolvent). The flight was about 50 minutes. Arriving at the Kalimarau airport, I was very surprised because the airport was so small. Batavia's Boeing 737 aircraft could not be parked at the apron in front of the airport because the taxiway is too narrow for the aircraft of that size, so we had to walk to the airport from the plane. The arriving terminal was just as big as the size of the two living rooms combined, with a small conveyor to remove the passenger's baggages.

Pos Dalam Bahasa Indonesia

Kami mengunjungi Pulau Maratua, Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki. Pulau Maratua ini sangat cantik, air pantainya bergradasi dari yang paling muda (dangkal) sampai ke paling tua (dalam). Pulau ini adalah pulau terbesar di Kepulauan Derawan. Pengembangan pulau ini juga akan diproyeksikan sebagai pulau dengan resor-resor mewah. Pemerintah Kab. Berau juga merencakan untuk membuat bandara kecil di pulau ini. Di Pulau ini Kami bersantai dan menikmati pemandangan pantai yang sangat menakjubkan. Saya dan sepupu-sepupu saya snorkling sebentar di sini. Hitung-hitung pemanasan untuk snorkling di tengah laut nanti. Dari Pulau Maratua Kami menuju ke spot snorkling di tengah laut.  Gila bagus banget pemandangan bawah lautnya! Itu pertama kalinya saya snorkling.

July, 2012, #derawan, #eastkalimantan, #indonesia

A photo posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

Kemudian Kami menuju ke Pulau Kakaban yang lebih menakjubkan lagi. Lihat lagi gambar satelit Kep. Derawan diatas, ditengah-tengah Pulau Kakaban ada semacam danau yang sangat lebar. Danau ini adalah air laut yang terperangkap oleh pulau ini, entah bagaimana ceritanya bisa seperti itu. Danau ini adalah habitat stingless jellyfish. Ada 4 jenis ubur-ubur yang hidup disini. Ubur-ubur jenis ini hanya ada di 2 tempat di dunia, di Amazon dan di Pulau Kakaban ini. Ubur-ubur ini sangat kenyal. Ini pertama kalinya saya memegang ubur-ubur. Untuk mencapai Danau Kakaban ini kita harus mendaki dan menuruni tebing yang mengelilinginya. Tenang saja tidak tracking kok, sudah ada tangga yang disediakan. Air di Danau ini lebih keruh dari air laut. Kami juga snorkling di sini. Dari Pulau Kakaban Kami beristirahat di Pulau Sangalaki, tempat konservasi penyu hijau. Saat Kami sampai di sana ada banyak sekali bayi-bayi penyu baru menetas. Sebenarnya penyu hijau bertelur di berbagai pulau di Kep. Derawan ini, tidak hanya di Pulau Sangalaki. Tempat konservasi ini dibuat karena penyu hijau banyak diburu untuk diambil cangkangnya atau diawetkan sebagai hiasan. It's so cruel! Satu hal yang unik dari penyu hijau ini, setelah dilepaskan ke laut dan tumbuh besar, berenang di berbagai samudra, mereka akan kembali ke tempat mereka ditetaskan untuk bertelur. Dari Pulau Sangalaki Kami pergi menuju spot untuk melihat Manta Ray. Kita tidak selalu dapat melihatnya melintasi spot ini, tergantung musim dan ketersediaan makanannya. Tapi spot ini adalah spot dimana Manta Ray paling sering terlihat. Sayangnya Kami tidak berhasil melihatnya. Dari sana kami pulang ke Pulau Dewaran, tapi tidak langsung ke cottage. Kami snorkling dulu di sana. Pemandangan lautnya juga tidak kalah bagus dari yang di tengah laut. 

Coral reef at Derawan Island, Indonesia. #worldsultimateinstameet @beautifuldestinations

A photo posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

Setelah snorkling Kami bebersih dan beristirahat menunggu makan malam. Kami berfoto untuk membuat siluet dari matahari senja. Kami makan malam di restoran dekat cottage. Hidangan laut yang mereka sajikan segar-segar dan enak. Setelah makan malam Kami berjalan-jalan di sepanjang pantai di Pulau Derawan. Kami bertemu dengan penyu yang baru selesai bertelur dan akan kembali ke laut. Sayangnya banyak wisatawan yang menahan pergerakan penyu ini untuk berfoto, kasihan sekali penyunya. Keesokan hari nya Kami bersantai dan makan telur penyu (ini sudah ilegal dari tahun 2012 tetapi Kami meminta tour guide untuk mencari telur puyuh. Untungnya dia dapat beberapa belas butir. hehehe) sambil bersiap-siap pulang ke Balikpapan. Pesawat Kami mengalami delay dan di bandaranya mati lampu, can you imagine it? Semoga saja bandara Kalimarau sudah diperbaiki fasilitas dan pelayanannya.

Post In English

We visited the island Maratua, Kakaban and Sangalaki Islands. Maratua Island was very pretty, water graded from light (shallow) to the dark (deepest). This island was the largest island in Derawan Islands. The development of this island will also be projected as an island with luxury resorts. Government  of District Berau is also planning a to create a small airport on the island. On this island we relaxed and enjoyed the beach which was amazing. Me and my cousins were snorkling briefly here. Getting ready for the snorkling in the deeper water later. Of Maratua We headed to the snorkeling spot in the middle of the sea. The underwater scenery was awesome! That was my first time to do snorkling.

July, 2012, #derawan, #eastkalimantan, #indonesia

A photo posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

Then we headed to Kakaban Island, which was more amazing. Take a look again at the satellite images  of Derawan Islands above, in the middle of Kakaban Island there was a very wide lake. That lake was the sea water trapped by the island, I don't know how it happen to form such a great salt water lake. That lake was the habitat of stingless jellyfishes. There are 4 types of jellyfish that live there. This types of Jellyfish were only exist in two places in the world, on Amazon and Kakaban Island. These jellyfishes are very chewy. That was my first time holding a jellyfish. To get to the lake had to climb Kakaban cliffs that surround it. It was not a tracking anyway, there was a ladder provided. The water in the lake is more turbid than seawater. We also snorkling here. From Kakaban We rested Sangalaki Island, it was a green turtle conservation area. When we got there, there were a lot of green turtles babies which were newly hatched. Actually the green turtles lay their eggs on various islands in Derawan Island, not only on the Sangalaki. The place was made for the conservation area of many green turtles, because they were hunted for their shells or preserved as a garnish. It's so cruel! A unique feature of this green turtle is, once it released into the sea and grew up, swim in the oceans and go anywhere in the world, they will go back to where they were hatched to spawn. From Sangalaki, ee went to a spot in the sea to see the Manta Ray passing by. We are not always able to see them across this spot, depending on the season and availability of food. But this spot is where the Manta Ray is seen, most often. Unfortunately we did not manage to see it. From there we return to the Dewaran Island, but not directly to the cottage. We did a snorkling in Derawan offshore. The scenery was not less great than in the middle of the sea.

Coral reef at Derawan Island, Indonesia. #worldsultimateinstameet @beautifuldestinations

A photo posted by Luthfi F. Rahman (@luthfifr) on

After snorkling We cleaned up and took some rest while waiting for the dinner. We took pictures to create a silhouette of the evening sun. We had dinner at a restaurant near the cottages. The seafoods that they served were fresh and tasty. After dinner we strolled along the beach on the island Derawan. We saw a green turtle that just finished nesting and would return to the sea. Unfortunately many tourists disturb it movement to take some pictures with it. I pity the green turtule. The next day, we relaxed and had some quail eggs (this is already illegal in 2012 but we asked for a tour guide to find some quail eggs. Luckily, he found a few dozen of it. Hehehe) while getting ready to go to Balikpapan. Our flight to Balikpapan was delayed for a couple hours and Kalimarau airport lights off, can you imagine it? Hopefully airport Kalimarau already improved their facilities and services.

Share this post to the world:
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinFacebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *