Dr. Tahir: Living Sacrifice

Spesifikasi Buku Living Sacrifice

Penulis: Alberthiene Endah

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tempat/Tahun Terbit: Jakarta/2016

ISBN: 978-602-03-2538-5

Jumlah Halaman: 393 (excl. Cover)

Cover: Paperback

Menurut sebagian orang buku tentang Dato' Sri Prof. Dr. Tahir ini adalah curhat habis-habisan tentang posisinya sebagai orang baru di keluarga konglomerat Dr. Mochtar Riady. Hubungan mertua-menantu yang "unik", hubungan dengan saudara-saudara iparnya yang kaku dan terkadang kurang harmonis, dll. Hal-hal "panas" itu bisa jadi bahan gosip media tentunya, saya juga kaget beliau blak-blakan mengenai privasinya tersebut. Buku ini menceritakan beliau dari kecil sebagai orang yang kurang mampu sampai menjadi konglomerat seperti sekarang ini. Saya akan mengambil sisi pelajaran tersebut dari buku ini dan mengesampingkan hal-hal "panas" tersebut. Ingat, tidak ada orang yang sempurna, tetapi kita bisa mengambil pelajaran-pelajaran positif dari hidup setiap orang. Ada 4 hal yang dapat saya petik sebagai pelajaran dari buku ini: Pelajaran Moral, Pelajaran Bisnis, The Power of Networking dan Tentang Keluarga.

Pelajaran Moral

Bab 2 - Cinta dan Kehormatan, hal. 59: Orang tua Dr. Tahir memberikan nasehat tentang menjaga harga diri walaupun mereka miskin, "Tahir, lebih baik tak punya uang daripada hidup berlumur nista. Martabat tidak diukur dari seberapa banyak kekayaan yang kita punya. Tapi seberapa mampu kita menjadikan diri kita mandiri, berguna dan tidak menyusahkan orang lain."

Bab 2 - Cinta dan Kehormatan, hal. 93: "Hikamah paling berharga dari dekade 60-an adalah betapa agung dan luhurnya makna cinta dan martabat. Semua yang dilakukan orang tua adalah untuk meningkatkan derajat keluarga dengan cara-cara yang terhormat. Kami berproses dengan ikhlas dan penuuh kerja keras. Mereka telah mengajarkan kepada kami sebuah teladan yang berharga. Jika ingin dihargai orang lain, berjuanglah. Bekerja keraslah. Mandirilah. Jangan bergantung pada orang lain. Jangan membiarkan diri kita jadi pengemis. Jangan menadahkan tangan dan menikmati hasil kucuran keringat orang lain. Bangun diri kita, tempa diri kita, dan kembangkan diri kita untuk menjadi manusia yang powerful. Paling tidak, punya harga diri."

Bab 3 - Dunia Baru, hal. 107: "Hidup saya adalah tanggung jawab. Persis seperti teladan orang tua saya, living sacrifice. Persembahan yang hidup. Menjalani hidup untuk berkorban. Mengorbankan diri bagi kebaikan keluarga dan orang banyak." Dr. Tahir sedari kecil membantu orang tuanya berdagang, menjaga toko kulakan di depan rumahnya (Surabaya), membeli barang-barang untuk di jual di Tanah Abang (Jakarta) dan sampai berbelanja barang-barang di Singapura. Hal ini berbeda dari anak kebanyakan yang menikmati masa mudanya untuk bergaul, bermain dan menjalani hobi mereka. Bisnis pertama Dr. Tahir juga tidak mengikuri passion-nya sampai dia akhirnya Dr. Tahir mapan dan mampu berbisnis sesuai dengan passion-nya, yaitu perbankan.

Bab 3 - Dunia Baru, hal. 116: Ayah Dr. Tahir berpesan kepadanya sebelum pergi kembali kuliah di Nanyang, "Tahir, kamu harus kuliah untuk mendapatkan kehormatan. Setelah itu kamu masih harus bekerja keras. Ingat satu hal, kehormatan itu tidak bisa datang karena rasa kasihan. Kehormatan datang karena seseorang mau bekerja keras dan memantapkan hidupnya. Ingat selalu itu. Jangan bercita-cita dikasihani orang."

Bab 3 - Dunia Baru, hal. 124-125: Never leave your faith for any reason. Saat itu Dr. Tahir dijodohkan dengan anak perempuan tertua Bapak Mochtar Riady, Rosy Riady. Saat itu keluarga Riady masih menganut agama Buddha, sedangkanDr. Tahir Nasrani. SaatDr. Tahir diminta untuk berpindah agama menjadi Buddha dan menikah menurut tata cara Buddha,Dr. Tahir menolak dan Pak Mochtar Riady tidak mempermasalahkan itu. Kemudian setelah upacara pernikahan, Dr. Tahir dan istrinya diminta untuk menunduk memberi hormat di hadapan gambar Buddha, Dr. Tahir tetap menolak dan berpegang teguh pada agama yang Dr. Tahir anut, padahal baru saja diajak menjadi bagian keluarga konglomerat.

Bab 4 - Menantu Mochtar Riady, hal 133: "Tahir, beribadalah. Percaya kepada Tuhan. Kamu harus mempercayai janji perlindungan-Nya. Dalam hidup, orang-orang yang percaya kepada kuasa Tuhan akan melihat keajaiban yang tidak dapat diuraikan dengan logika." Saat itu Dr. Tahir menerima bantuan berupa pinjaman SGD 3 juta (1974) dari Pak Wiryono, seorang pejabat bea cukai. Dr. Tahir saat itu masih membantu orang tuanya berdagang kulakan. Dr. Tahir berusaha berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa bantuan mertuanya yang konglomerat. Momen pertemua dengan Pak Wiryono tersebut Dr. Tahir anggap sebagai karunia Tuhan terhadap orang-orang yang bekerja keras dan tetap beribadah.

Bab 5 - Kebangkitan dan Kejatuhan, hal 163: Falsafah yang selalu Dr. Tahir anut, "Bangunlah kekuatan dari dalam dan oleh diri sendiri. Berjuanglah untuk itu, Bekerjalah untuk itu. Bekejalah mati-matian untuk membentuk kemandirian dan kekuatan diri. Sebab, jika kita mendapat kesuksesan lantaran bersandar pada diri orang lain, posisi kita lemah. Bisa hilang sewakt-waktu, atau dirampas orang lain. Jika kekuatan itu kita bangun sendiri, nobody can take it away."

Bab 5 - Kebangkitan dan Kejatuhan, hal 172: Saat ayahnya mengalami koma, Dr. Tahir berdoa agar Tuhan menyelamatkan ayahnya, karena beliau ingin berbakti lebih lama lagi, dan berjanji akan hal itu. Tuhan mengabulkan doa-nya dan melaksanakan janjinya hingga akhir hayat ayahnya.

Bab 5 - Kebangkitan dan Kejatuhan, hal 200: Dr. Tahir pernah diramal orang 2 orang yang berbeda di Teipei dan Hongkong dan kedua-nya mengatakan hal yang hampir sama, bahwa beliau akan mencapai kesuksesan di usia hampir 50 tahun dan puncaknya di usia 60 tahunan. Saat berusia 27-37 tahun beliau tidak ada apa-apanya. Usia 37-47 beliau masih menaiki tangga menuju kesuksesan. Usia 47-60 tahunan beliau berhasil menjadi 10 besar orang terkaya di Indonesia, melalui Mayapada Group yang dimilikinya. Pada tahun 2016, beliau adalah orang terkaya ke-7 di Indonesia (ke-906), satu peringkat dibawah mertuanya yang berada diurutan ke-6 orang terkaya di Indonesia (ke-854 di dunia). [Referensi] Intinya, it's a long way to a success, be patient and keep doing your best.

Bab 6 - Mayapada, hal 203: Pada dekade 70-an, Dr. Tahir mejalankan bisnis import furnitur mewah. Bisnisnya berjalan mulus sehingga beliau ingin membangun pabrik furnitur tersebut di Indonesia. Kantor pusat furnitur tersebut di Milan, sudah memberikan tanda setuju, beliau meminjam dana yang cukup besar dari bank untuk membangun pabrik. Tapi, karena isu ketidak-stabilan ekonomi sedang terjadi di Indonesia, kantor pusat furnitur tersebut membatalkan rencana membangun pabrik. Beliau terbelit hutang banyak. Pada dekade 80-an, beliau bisnis dealer mobil Suzuki. Bisnis ini juga lancar. Tapi tiba-tiba petinggi di Salim Group menghentikan hak jual kepada para dealer, padahal beliau sudah meminjam uang lagi untuk ekspansi dealernya. Lagi-lagi beliau terbelit hutang yang sangat banyak. Pada dekade 90-an beliau menjalankan bisnis perbankan, bisnis ini lah yang membawanya kepada kesuksesan hingga sekarang. Tidak ada yang pasti, semua bisa datang atau hilang tiba-tiba. Yang penting semangat juang untuk bangkit lagi.

Bab 6 - Mayapada, hal 221: Confusius mengatakan, kalau mau mengelola suatu negara, orang harus bisa mengelola rumah tangganya dulu. Bagaimana bisa mengelola sebuah negara jia keluarga sendiri saja tidak bisa dikelola dengan baik. Jadi, jelas seorang pemimpin haruslah seorang yang baik (right person).

Bab 7 - Kejayaan dan Strategi, hal 230: "The point is, when you're rich, people come around youItulah hukum dunia." Paragraf ini menyatakan, perubahan nasib beliau dari orang miskin yang dihina banyak orang, menjadi orang kaya, membuat sikap orang-orang berubah terhadap beliau. Tidak bisa dipungkiri inilah kenyataanya. 

Bab 8 - Cinta dan Martabat, hal 253: Betapa mudah manusia kehilangan martabat dan kehormatan. Kemiskinan bisa membuat orang semena-mena kepada kita. Sudah baik pun tetap dihina. Itu sebabnya saya bekerja keras untuk mencapai kesejahteraan. Sudah sejahtera pun bukan berarti lantas martabat dan kehormatan bisa kita miliki. Perilaku kita kemudian menjadi penentu, apakah kita layak dihormati atau tidak.

Bab 8 - Cinta dan Martabat, hal 260: Ketika melihat orang lain sukses, belajarlah. Tirulah hal-hal baik yang dilakukan oleh si sukses sehingga kita bisa melatih diri untuk menggapai keberhasilan pula.

Bab 9 - Mengalirkan Anugerah, hal 285: Dr. Tahir melalui Tahir Foundation banyak membantu masyarakat di bidang kesehatan dan pendidikan. Suatu saat beliau ingin meng-gratiskan pengobatan bagi pasien penyakit jantung di Mayapada Hospital, yang juga miliknya. Pihak management merasa keberatan akan hal itu, bukan karena mereka anti aksi kemanusiaan, tapi hal itu akan mengganggu cash flow rumah sakit. Akhirnya beliau memutuskan, pasien tetap membayar seperti yang ditetapkan oleh rumah sakit, tapi yang membayarkan adalah Tahir Foundation. Jadi jika bicara bisnis ya dengan cara bisnis. Bicara sosial ya sosial. Jangan mencampuradukan keduanya, setidaknya dari sidi management.

Bab 9 - Mengalirkan Anugerah, hal 299: "Ada pula filosofi Tiongkok yang berbunyi demikian, 'Jika kamu mau berbagi, belum tentu ada kekayaan yang kemudian datang pada dirimu. Tapi bencana akan jauh dari dirimu.'" Filosofi ini mengajarkan, kalau kita sedekah jangan berharap dapat imbalan harta yang lebih banyak, tetapi bersedekahlah untuk mendapatkan lebih banyak kebaikan untuk diri kita sendiri.

Bab 10 - Pesan Indah Dari Kehidupan, hal 308: "Satu hal yang saya syukuri sekaligus nyaris tak saya percayai bisa ada di diri saya adalah kemauan untuk mengandalkan diri sendiri."

Bab 10 - Pesan Indah Dari Kehidupan, hal 315: Ibu Dr. Tahir pernah berkata saat beliau masih remaja, "Tahir, jangan membanggakan marga Ang. Itu memang marga kita. Akan tetapi, di dalam marga Ang juga ada Ang yang buruk selain Ang yang baik. Jadi, jangna kamu pikir dengna menyandang marga Ang kamu pasti dianggap baik. Yang membuat mu baik adalah karakter dan perilaku mu."

Bab 10 - Pesan Indah Dari Kehidupan, hal 317: "Semakin hari saya semakin paham apa yang dimaksud Tuhan lewat anugerah keberhasilan. Orang-orang yang diberi kesempatan untuk maju sebetulnya ditantang lebih tinggi oleh-Nya, mampukah tetap bisa berperilaku sederhana dan bersikap baik di dalam kedudukan yang bercahaya. Kekayaan hanyalah sarana yang dipakai-Nya untuk menguji kita."

Pelajaran Bisnis

Bab 2 - Cinta dan Kehormatan, hal. 65: Tentang kesuksesan Ibu Dr. Tahir dalam berdagang dengna modal yang sangat terbatas, malah hampir tidak ada, "Rumus suksesnya, kalau mau untung, orang harus terlibat dalam aktivitas dagang. Bagaimanapun bentuknya, harus terlibat. Jika tidak bisa jadi penjual, jadilah makelar. Makelar yang pandai dan baik"

Bab 2 - Cinta dan Kehormatan, hal. 84: Rezeki bukan ditunggu tapi di perjuangkan.

Bab 2 - Cinta dan Kehormatan, hal. 87-88: Kuncinya (untuk mecari barang sebagai stok toko kulakan), setiap barang yang dibeli (untuk dijual kembali) harus memiliki daya jual yang tinggi. Dari proses berbelanja barang untuk stok toko, Dr. Tahir belajar mengenai bagaimana menawar harga dan memperhitungkan dengan nilai yang akan dipatok saat menjual nanti; bagaimana menentukan jenis barang yang tidak akan berlama-lama jadi stok di toko; bernegosiasi; bagaimana menempatkan hati dan mata pada posisi pembeli; seorang pedagang harus paham tren, bukan mengikuti selera sendiri.

Bab 2 - Cinta dan Kehormatan, hal. 90-91: Bedakan antara trik dagang dengan membohongi konsumen. Bisnis adalah seni jujur dan bohong yang diolah dalam harmoni yang pas. Setiap pedagang pasti menyembunyikan harga asli barang dagangannya, tetapi pedagang itu juga dituntut untuk bersikap jujur dan baik dan transaksi dan pelayanan.

Bab 3 - Dunia Baru, hal. 99: Apa itu bisnis? Ibu Dr. Tahir menjelaskan, "Tjoen Ming (nama Tionghoa Dr. Tahir), bisnis itu bukan berbohong. Tapi membutuhkan kebohongan. Itu namanya trik dagang. Bisnis adalah bagaimana kamu bisa memainkan seni bertutur dan bedagang sehingga orang yakin mau bertransaksi dengan mu. Lihatlah ini (busana wanita), ini Mamah beli 5000 rupiah. Mamah akan jual 15000 rupiah. Dengan berbagai cara Mamah akan katakan bahwa harga ini sudah cukup baik, sehingga pembeli yakin. Tapi, di balik itu Mamah punya tanggung jawab besar. Yakni memastikan bahwa barang yang kita jual memang layak dihargai sebesar itu."

Bab 3 - Dunia Baru, hal. 106 dan Bab 4 hal. 150: Menurut saya orang yang bekerja berdasarkan passion dan hobi (bisnis yang dijalankan karena sekedar hobi) adalah yang paling beresiko dan tingkat kesulitannya paling rendah. Karena etos kerjanya jadi gampang kendur. Tidak ada lecutan untuk keluar dari zona nyaman dan merasakan sakitnya tempaan saat berjuang. Yang kedua adalah bekerja karena tanggung jawab.  Di sini orang harus mematahkan rasa malas, harus menempa dan melecut dirinya untuk bekerja keras, berdisiplin tinggi, punya etos kerja yang mantap, tidak mudah mengeluh karena prosesnya menyulitkan. Dan tingkat yang lebih tinggi lagi adalah bekerja dengan visi dan tanggung jawab. Inilah level tertinggi orang berjuang, menurut saya. Yakni orang-orang yang sanggup bekerja dengan segenap rasa tanggung jawab dan komitmen kuat, dan menyempurnakannya dengan kecerdasan melihat ribuan langkah di depan dibandingkan dengan jarak pandang orang lain.

Bab 4 - Menantu Mochtar Riady, hal. 148: "Tahir, di dalam hidup ini, termasuk dalam berdagang, kita ini seperti botol kosong. Kalau kita mengisinya dengan kelicikan, ketidakjujuran dan kebusukan, kita akan berisi air keruh. Kalau kita mengisinya dengan kerja keras, kejujuran, dan kebaikan, kita akan berisi air yang jernih. Jika ingin masa depan mu baik, berbisnislah dengan baik. Cari unutng, tapi jangan berbuat jahat."

Bab 4 - Menantu Mochtar Riady, hal. 152: Kunci menjadi importir dan supplier barang itu sederhana: kejelian membidik barang yang disukai pasar dan keseimbangan antara demand dan stok. Syarat pertama tak terlalu sulit karena sepanjang menjalani bisnis kulakan dulu nalar saya sudah terlatih mengendus barang yang bakal dianggap laku. Seperti yang telah saya katakan, jurusnya sederhana saja. Peka pada apa yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dan cari apa yang dibutuhkan di sana. Syarat kedua sangat penting. Barang jangan sampai menipis agar tidak terjadi lost-sell. Kalau barang susah dicari, akan hilang kepercayaan. Para agen tidak akan mau lagi memasarkan. Ketersediaan barang harus terjamin. Sebaliknya, barang juga jangan sampai menumpuk di gudang. Tidak boleh berlebihan karena akan merusak harga. Di atas semua itu, cash flow harus sehat dan lancar. Tidak boleh mandek sehingga perputaran uang lancar. Apalagi untuk pengusaha dengna modal kecil seperti saya.

Bab 6 - Mayapada, hal. 214-215: Modal dasar berbisnis: enough/big capital, know the rules dan be trustworthy.

Bab 6 - Mayapada, hal. 218: Saya teringat saat saya ke Amerika di tahun 80-an untuk mengambil gelar master. Suatu hari dosen mentor saya bercerita, General Electric (GE) adalah perusahaan elektronik yang besar dan tanggu. Chairman0nya pernah membuat kesaksian. Ia mengatakan bahwa ia punya waktu 95% dari jam kerjanya setiap hari yang dia pakai untuk mengobrol dengna eksekutifnya. Sisanya 5% ia pakai untuk memberi pengarahan. Kenapa dia pakai 95% untuk mengobrol dengan eksekutifnya? Karena ia mau tahu dari obrolan itu, apakah ia telah memilih orang yang tepat.

Bab 7 - Kejayaan dan Strategi, hal. 230: Bank Mayapada berekspansi pelan-pelan, tanpa skandal dan dana asing mana pun; memiliki orang-orang yang tepat untuk mengisi setiap jabatan dan mereka dapat bekerja dalam tim; tetap dengan gaya hidup susah. 

Bab 7 - Kejayaan dan Strategi, hal. 232: Saya selalu melangkah dengna platform yang mantap. Di Bank Mayapada, misalnya platfrom harus memenuhi 3 syarat utama. Pertama financial sound, team work yang solid, memiliki growth.

Bab 7 - Kejayaan dan Strategi, hal. 233: Platform bisnis yang sedang bagus (sunrise): teknologi informasi, healthcare, finansial, ritel, properti dan media.

Bab 7 - Kejayaan dan Strategi, hal. 234: Omong kosong bila ada seseorang yang mempelajari hal-hal dalam bisnis sendirian, mengurung diri di rumahnya, dan kemudian mampu menghasilkan suatu platform yang gemilang. Kita mendapatkan itu di luar. Dari interaksi. Dari sosialisasi. Dari fenomena yang ada di dunia. Dari kehidupan.

Bab 7 - Kejayaan dan Strategi, hal. 242-244: Jurus keberhasilan dalam bisnis: serahkan diri kita pada medan tanggung jawab, jauh diri dari rasa jenuh.

Bab 10 - Pesan Indah dari Kehidupan, hal. 303: Karakter kerja saya masih sama, disiplin pada waktu dan janji.

Bab 10 - Pesan Indah dari Kehidupan, hal. 311: Ibu Dr. Tahir pernah berkata, "Berbisnis itu butuh nyali. Butuh keberanian. Jika takut gagal, tak akan ada kemajuan. Jalan di tempat saja."

Bab 10 - Pesan Indah dari Kehidupan, hal. 312: Sebuah pelajaran berharga dari kebangkrutan bisnis dealer mobil Dr. Tahir: Jangan melakukan sesuatu yang terlalu beresiko. Berutang pada bank dengan mengandalkan satu-satunya bisnis tidaklah bijaksana.

The Power of Networking

Selama hidupnya, Dr. Tahir mendapatkan bantuan dari orang-orang berikut ini untuk membangun bisnisnya:

Wiryono, seorang pejabat bea cukai Indonesia yang berkantor di Orchard Road Singapore. Beliau meminjamkan uang sebesar SGD 3 juta di masa-masa awal pernikahan Dr. Tahir pada dekade 70-an. Pinjaman ini digunakan untuk hidup dan modal bisnis ekspor-impor.

Mochtar Riady, konglomerat Indonesia yang juga mertua Dr. Tahir. Dengan menyandang nama keluarga Riady, diakui oleh Dr. Tahir banyak memudahkan urusannya. Selain itu, saat mengalami kebangkrutan usaha dealer mobil pada dekade 80-an, beliau meminjamkan uang kepada Dr. Tahir untuk membayar hutang ke bank dan bangkit kembali.

Alm. Paian Nainggolan, mantan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri. Beliau memberikan kouta ekspor garmen ke Amerika Serikat kepada Dr. Tahir, saat Dr. Tahir mengelola usaha garmen milik Pak Mochtar Riady.

Alm. Nasrudin Sumintapura, mantan duta besar RI untuk Uni Eropa dan mantan Menteri Muda Keuangan. Beliau memberikan rekomendasi untuk Dr. Tahir kepada Bank Indonesia agar lebih mempercayai Bank Mayapada. Hal ini berimbas pada kesuksesan Bank Mayapada sebagai bank perdagangan.

Tentang Keluarga

Bab 4 - Menantu Mochtar Riady, hal. 137: Agaknya memang seperti inilah Pak Mochtar Riady membentuk putra-putrinya. Anak laki-laki dibentuk menjadi seorang pebisnis unggul. Anak perempuan dibentuk untuk bisa menjadi seorang istri yang baik. Pada awalnya saya begitu tersedak kala mengetahui ini. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Sungguh berbeda dengan keadaan di rumah saya. Adik-adik perempuan saya diajari Mamah untuk mengetahui segala hal mengenai dagang. Bahkan, mereka dipacu untuk bisa memiliki toko sendiri dan mengikuti jejak Mamah. Mereka boleh mengetahui apapun untuk membuat diri mereka piawai dalam berdagang dari waktu ke waktu. Kami, anak laki-laki dan anak perempuan tidak dibedakan. Kecuali bahwa saya pernah, bahkan sering dipukul Mamah, sementara adik-adik saya tidak.

Bab 8 - Cinta dan Martabat: Seluruh bab ini menceritakan tentang keluarga Dr. Tahir sendiri, keluarga Ayahnya dan keluarga Pak Mochtar Riady.

One more thing, keseharian Dr. Tahir

Bab 10 - Pesan Indah Dari Kehidupan, hal. 305:

Tiap pagi saya bangun selalu pada pukul 05.00 (bangun pagi). Satu jam kemudian saya habiskan dengan membaca surat kabar. Saya tak bisa memulai hari tanpa membaca terlebih dahulu (kebiasaan membaca). Pukul 06.00 saya sarapan hingga 06.30. Selanjutnya saya meditasi hingga 07.30. Ini bagian penting dalam hari saya, sarapan batin. Saya duduk begitu saja di sudut kamar memejamkan mata dan menikmati hening. Selama satu jam saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan di hari sebelumnya. Hal yang baik dan salah. Saya mengosongkan batin dan mengisinya kembali dengan harapan-harapan baik, komitmen untuk membenahi diir lebih baik. Pengulangan untuk memperingatkan diri sendiri selalu saya lakukan dlaam meditasi setiap hari. Meditasi membuat saya bisa membebaskan perasaan yang mengganjal sekaligus mengisi lagi energi positif. Saya merasa disegarkan, dimurnikan dan disemangati.

Setelah meditasi, 07.30, barulah saya menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor. Sebelum masuk mobil, saya menghabiskan waktu beberapa saat dengan tiga ekor doberman yang sangat saya kasihi. Jika kemacetan lalu lintas tidak terlampau parah, biasanya saya tiba di kantor pada pukul 09.00. Jadwal kerja saya dipenuhi oleh meeting, meeting dan meeting. Kadang saya harus keluar kantor, tapi kebanyakan meeting dilakukan di kantor saya di Mayapada Tower, Jalan Jendral Sudirman. Praktis.

Sekertaris saya tidak penah pusing memikirkan makan siang saya. Seperti yang sudah saya katakan, saya makan tak beda jauh dengan pegawai-pegawai saya. Sejak kecil saya terbiasa makan sederhana dan apa adanya. Ini ternyata membentuk selera lidah saya. Bukannya norak dan selalu memimpikan macam-macam makan enak, saya justru tidak terlalu ambisius terhadap makanan. Apa saja yang ada saya bisa makan. Biasanya sekertaris saya membelikan menu yang simpel di sekitar kantor. Bisa nasi gorang, mi goreng, gado-gado, atau kadang ayam goreng fastfood. Nyaris selalu menu tunggal, tidak di warnai tambahan macam-macam. Murah dan simpel. (sederhana)

Dan, sudah. Itu saja pewarna di siang hari. Hingga sore saya kemudian disibukkan lagi dengan meeting atau menganalisis laporan-laporan Kadang waktu saya disedot oleh percakapan telepon dengan rekanan bisnis di luar negeri. Jika ada waktu luang, saya bisa bertemu dengan sahabat atau para tokoh yang ingi berbincang dengan saya (menjaga networking). Pada pukul 18.00 saya kembali berada di kemacetan lalu lintas menuju rumah di Simprug. Pukul 19.00 saya sudah tiba di rumah dan langsung makan malam. Pukul 20.00 saya menonton televisi hingga mengantuk. Seringnya, pukul 21.30 saya sudah terlelap.

Share this post to the world:
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinFacebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *