Moview Review: Danur, I Can See Ghosts

Danur, I Can See Ghots, salah satu film horror Indonesia yang terbaru dirilis di Bandung pada tanggal 30 Maret 2017. Premier film ini di Trans Studio Mall menuai kehebohan karena ada 5 bangku penonton yang dikosongkan, dilapisi kain putih, dan diletakkan berbagai pernak-pernik permintaan teman-teman hantu Risa Saraswati, yaitu Peter, Hans, Jansen, William dan Hendrick. Sebagian orang itu dianggap sebagai gimmick marketing film tersebut, tapi sebagian yang lain membela Risa bahwa itu bukan gimmick marketing, melainkan teman-teman hantu Risa memang ada dibangku kosong tersebut. Film ini adalah adaptasi dari novel Risa Saraswati yang berjudul Gerbang Dialog Danur, yang memang laris di pasar.

Danur sendiri dalam bahasa Sunda berarti cairan berbau amis yang keluar dari jasad manusia yang telah membusuk. Dari novelnya yang telah saya baca, karya bergenre horor dari Risa Saraswati ini berbeda dengan karya sejenis di pasaran. Novelnya tidak menceritakan tentang hantu-hantu yang mengejar manusia, meneror dan membunuh, tapi menceritakan tentang kisah-kisah tentang para hantu yang ditemui oleh Risa saat mereka masih hidup. Oleh karena itu saya memiliki ekspektasi yang tinggi dengan film ini.

Film ini bercerita saat Risa masih 8 tahun, saat dia pertama kali pertemu dengan kelima sahabat hantunya di rumah tua milik neneknya. Karena Ely (Ibu Risa) khawatir dengan kelakuan Risa yang suka bermain, tertawa dan berlari-lari sendiri, dia memanggil temannya yang seorang psikolog untuk membantunya. Ternyata, apa yang dialami Risa bukanlah sebuah kelainan psikologis, akhirnya seorang tukang kebun yang bekerja di rumahnya, Mang Ujang menyarankan Ely untuk meminta bantuan Abah Asep, seorang paranormal. Abah Asep berhasil membuat Risa tidak dapat berjumpa kembali dengan sahabat-sahabat hantunya. Beberapa tahun kemudian Risa kembali ke rumah neneknya tersebut untuk menjaga neneknya, saat itu ada hantu jahat yang bernama Asih, yang ingin mengambil adik perempuan Risa. Apakah Risa berhasil menyelamatkan adiknya?

Sejujurnya, saya agak kecewa dengan film ini. Saya berharap film ini dapat seseram film horor Indonesia jaman dahulu seperti, Tusuk Jelangkung atau Kuntilanak, tapi dengan cara yang berbeda seperti yang dihadirkan oleh novelnya. Ternyata film ini nanggung, mau mengerikan seperti film horor lainnya tidak, tapi mau seperti di novelnya juga tidak. Film ini juga terlalu meniru film Insidious, melalui adegan Risa yang dapat masuk ke dunia lain melalui permainan petak-umpet dan Jelangkung, melalui adegan pemanggilan sahabat-sahabat hantu Risa menggunakan lagu Boneka Abdi. Menurut Risa, dalam novelnya, lagu Boneka Abdi memang lagu favorit sahabat-sahabat hantunya, sampai-sampai saat Risa sudah lama tidak berjumpa dengan teman-teman hantunya itu, saat dia menyanyikan potongan lagu Boneka Abdi saat proses rekaman single Story of Peter, teman-teman hantunya pun muncul lagi untuk menemui dia. Tetapi dalam film ini lagu Boneka Abdi terlalu sering dinyanyikan dan hantu jahat Bi Asih pun menyanyikan lagu ini. Tidak seperti di film Kuntilanak yang mana hanya karakter yang diperankan Julie Estelle saja yang dapat menyanyikan lagu ini untuk memanggil Kuntilanak. Scoring musik film ini juga terlalu biasa saja, tidak mengagetkan seperti Insidious, Conjouring, dll. 

Menurut Risa juga dalam suatu wawancara, film ini menggambarkan sisi lain dari novel Danur, jadi tidak persis meniru cerita dalam novel tersebut. Selain dari kekurangan-kekurangan yang telah saya sebutkan diatas, satu-satunya yang membuat film ini seram adalah ekspektasi seram dari penonton itu sendiri. Pemasaran film ini saya akui sangat bagus dan sukses. Bahkan film ini menjadi salah satu yang terlaris di tahun 2017 dengan jumlah penonton 1,2 juta orang di minggu pertama perilisannya.

2.5 Stars

Studio produksi:

Pichouse Film

MD Pictures


Sutradara:

Awi Suryadi

Pemeran:

-Prilly Latuconsina as Risa Saraswati

-Shareefa Daanish as Hantu Bi Asih

-Sandrinna Michelle as Riri

-Indra Brotolaras  as Andri

-Kinaryosih as Ely

-Inggrid Widjanarko as Nenek 

-Asha Kenyeri Bermudez as Risa Kecil

-Wesley Andrew as William

-Kevin Bzezovski Taroreh as Jansen

-Gamaharitz as Peter

-Fuad Idris as Ujang

-Aline Adita as Psikolog

-Jose Rizal Manua as Asep

Durasi: 120 menit

Share this post to the world:
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinFacebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *